Imam Penerus Nabi Muhammad SAW

Hari Jum’at aku dipinjami sebuah buku oleh sahabatku, Irfan, judulnya “Imam Penerus Nabi Muhammad SAW, Tinjauan Historis, Teologis dan Filosofis”, karya Sayyid Mujtaba Musawi Lari (terjemahan … hehehe). Ini adalah yg kedua setelah sebelumnya sahabatku ini memberikan hadiah buku Imam Mahdi bersamaan dengan niatnya untuk memilih takdir pindah ke kantor barunya di BP. Alhamdulillah, diselingi kegiatan partisipasi memilih ketua IA ITB, juga pijitan Pak Mumuh, pada Minggu malam tuntas juga kubaca dari awal sampai akhir. 

Sejak baca buku Imam Mahdi (yg editornya sababatku sejak SMA, Arif Mulyadi), aku cukup rajin menyempatkan browsing di internet tentang topik-topik terkait disela-sela kesibukanku menangani beberapa proyek paralel di kantor. Waktu itu, kumulai googling dengan keyword “Shahih Bukhori”. Lalu kutemukan beberapa blog yang membahas kontroversi tentang Shahih Bukhori (terus terang aku tidak begitu tertarik karena banyak tulisan dan komentar yg menurutku tidak atau kurang santun). Sampai kutemukan suatu e-book “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” karya Tijani As-Samawi, yang ternyata baru kusadari terdapat di website www.al-shia.com (belakangan kutahu ini adalah salah satu website yang diprakarsai Saudara-saudara kita dari Syiah, aku menyebutnya demikian karena kutahu mereka juga menyebut penganut madzhab Sunni sebagai Saudara-saudara kita dari Ahlussunnah). Dalam 2 hari kulahap isi e-book tersebut, karena kusadari ketika aku mulai membacanya pada bagian akhir, rasa ketertarikanku tak bisa kubendung untuk membacanya dari awal hingga akhir. Ini kulakukan sebagai upaya sadar dan naluri fitrahku untuk mencari kebenaran yang sekonyong-konyong hadir di hadapanku pada saat usiaku yg sudah 34 ini dengan 1 istri dan 5 anak, amanah dari Yang Maha Kuasa, yang kucintai dan kusayangi sepenuh hati.

bersambung …..

~ by igahmad on November 19, 2007.

6 Responses to “Imam Penerus Nabi Muhammad SAW”

  1. Salam. Saudaraku, semoga anda sekeluarga sehat wal afiat. Ada sedikit ralat dariku bahwa buku karya Sayid Mujtaba Lari bukanlah hasil suntinganku (jika tertulis demikian, maka kemungkinan salah cetak. Saudaraku, semoga silaturahim di antara kita terus terjalin sepanjang usia. Hanya kearifan dalam waktu yang bisa mendewasakan kita. Yaa Sattaar al-’uyuub.

  2. Terimakasih atas komentarnya, saudaraku amuli. Jadi teringat kenangan-kenangan indah sejak sma di tasik dan kuliah di bandung.
    Coba simak lagi tulisan di atas, yg dimaksud editornya Arif Mulyadi yaitu buku Imam Mahdi (bukan salah cetak kan? hehehe), bukan buku Sayid Mujtaba Lari.
    Salam buat keluarga …

  3. kita selalu berjalan menuju kebenaran sejati, tiap diri melakoni liku2 perjalanan. asal kita tetap bertujuan mencari kebenaran..akan selalu bermakna.

  4. As-salamu ‘alaikum. Mohon izin bertanya kpd Bapak Iwan Gunawan Ahmad. Benarkah Bapak alumnus Teknik Elektro ITB? Bapak dulu mahasiswa EL-ITB angkatan ‘91? Mohon dijawab ya, Pak. Saya perindu kebenaran yg memandang kebenaran sbg hal yg dicari tanpa akhir. Mungkin kita bisa bersilaturahim berbagi jejak mencari kebenaran. Maafkan saya yg belum setegar Bapak yg berani mencantumkan nama asli & lengkap. Was-salamu ‘alaikum.

    • Wa’alaikum salam Wr. Wb.,
      Maaf baru balas, krn cukup lama tidak aktif di wordpress …
      Iya, yg Anda maksud itu saya … Jika belum berkenan mencantumkan nama asli silakan Japri saja, gpp kok.

      Salam …

  5. Kamu dan para Imam dari anak keturunanmu sesudahku ibarat perahu Nabi Nuh; siapa yang naik diatasnya selamat, dan siapa yang menolak (tidak naik) akan tenggelam. Kamu semua seperti bintang; setiap kali bintang itu tenggelam, terbit lagi bintang sampai hari kiyamat”.

    “Kullu maa ghaaba najmun thala’a najmun ila yaumil-kiyaamah”. Setiap kali bintang itu tenggelam maka terbit lagi bintang hingga sampai kiyamat.

    Kalimat terbit menggunakan fiil madhi (thala’a). Maksudnya antara bintang sebelum dan sesudahnya (antara guru sebelumnya dan yang dikehendaki Ilahi sebagai penerus tugas dan fungsinya) itu tidak hanya kenal. Tidak hanya sebagaimana hubungan guru dan muridnya akan tetapi atas kehendak dan ijinNya digulawentah sedemikian rupa sehingga sekiranya ditinggal mati telah benar-benar siap menerima pelimpahan. Begitulah sejak Nabi Muhammad Saw yang mempersiapkan Sayidina Ali bin Abu Thalib Ra. Kemudian melimpahkan wewenang kepadanya sebagai wakil yang meneruskan tugas dan fungsi kerasulannya.

Leave a Reply